Tampilkan postingan dengan label pakaian seragam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pakaian seragam. Tampilkan semua postingan

Jelang Kampanye, Pengusaha Konveksi Banjir Order

Diposting oleh Samino on Selasa, 21 Juli 2009

Hati-Hati Karena Pembayaran Molor Berbulan-Bulan
Putusan Mahkamah Konstitusi tentang penetapan calon legislator berdasarkan suara terbanyak membuat pengusaha konveksi dan sablon kebanjiran pesanan. Para calon anggota legislatif maupun partai politik (parpol) banyak memesan kaos, bendera, spanduk, baner hingga kalender untuk kampanye.

PARA pengusaha di Gunungkidul menyambut putusan MK dengan suka-cita. “Kami sangat berterimakasih pada MK. Thanks to MK. Order jadi meningkat,” kata Danang, pimpinan salah satu perusahaan percetakan dan reklame kemarin.

Usaha yang dijalankan Danang di Jalan Wonosari Nglipar itu mengalami peninigkatan order hingga 30 persen. Alat peraga kampanye yang paling banyak diminati caleg adalah kalender.

Harganya bervariasi. Kalender bergambar wajah caleg di patok seharga Rp 2 ribu – 5 ribu per lembar. Sedangkan kaos dihargai Rp 7 ribu hingga Rp 10 ribu per biji.

Ardi, pemilik usaha konveksi dan sablon di sekitaran Patuk justru kewalahan menerima pesanan. “Saat ini pesanan yang saya layani 50 ribu kaos dari berbagai caleg. Padahal kalau hari biasa maksimal pesanan saya hanya berkisar 20 ribu kaos,” katanya.

Satu potong kaos kualitas rendah dihargai Rp 5.500 hingga Rp 6.000. Sedangkan kaos kualitas bagus Rp 17.000. Selain membuat kaos, ia juga menerima pesanan kalender bergambar wajah calon legislatif.

Namun, banyaknya pesanan dari para caleg justru membuatnya lebih hati-hati, terutama menyangkut pembayaran. Sebab, berdasarkan pengalaman, pembayarannya selalu molor hingga berbulan-bulan.

Ardi mengungkapkan, sebelum putusan MK, besarnya pesanan dari partai dan calon legislator berimbang. “Kini pesanan dari calon legislator lebih mendominasi,” katanya.

Pengusaha konveksi Akbar terpaksa menolak pesanan. Ia menduga order semakin meningkat mendekati masa akhir kampanye. Hanya, banyak caleg yang modalnya tak terlampau besar.

Menjelang kampanye, bisnis pemasangan alat peraga juga semakin gayeng. Para pemuda kebanjiran order. Mereka dimintai beberapa partai memasang atribut. Tentu dengan imbalan uang.

“Daripada nganggur gak ada kerjaan. Lagipula cuma pasang-pasang bendera,” kata Jono, 29, pemuda dusun Bansari Kepek Wonosari.

Dari pekerjaan musiman itu, ia mendapat komisi Rp 50.000 hingga Rp 75.000.***
HENRI SAPUTRO, Gunungkidul

More aboutJelang Kampanye, Pengusaha Konveksi Banjir Order

Doel, pemilik Java konveksi

Diposting oleh Samino

Di tengah Hiruk pikuknya pendaftaran CPNS, jarang sekali orang di usia muda berani membuka usaha. Doel (24), adalah salah satu pemuda yang nekat menceburkan diri secara total dalam bidang usaha. Usaha yang sekarang sedang digelutinya adalah usaha vermak dan Konveksi. “Walau sedang ramai perekrutan CPNS, saya malah tidak tertarik. Saya lebih tertarik membuka usaha konveksi karena bisa menciptakan lapangan kerja,” ujarnya Senin (11/11).

Ia berani mengambil profesi sebagai pengusaha, karena tidak mau mengikuti tradisi jadi karyawan yang sudah mengakar di lingkungannya. “Saya memulai usaha konveksi sejak tahun 2006. meskipun usaha ini sedang ada kenaikan harga pada bahan kain dan benang. Namun saya tetap memberikan pelayanan yang maksimal pada pelanggan. Alhamdulillah, banyak pelanggan saya yang merasa puas,” ungkapnya.
More aboutDoel, pemilik Java konveksi

Order Usaha Konveksi Bakal Meningkat

Diposting oleh Samino

Kebutuhan pakaian dan perlengkapan sekolah dipastikan menigkat hingga Juli 2009. Pasalnya, pada masa liburan sekolah, akan banyak yang memesan (order) pakaian untuk keperluan masuk sekolah nanti. Di sisi lain, hal ini akan menaikkan order usaha konveksi.
“Kondisi ini akan berdampak pada persaingan pasar yang semakin ketat. Untuk itu, para perajin konveksi, yang kebanyakan skala kecil menengah perlu menyiapkan strategi untuk persaingan ini,” kata Ketua Forum Daerah Usaha Kecil dan Menengah (Forda UKM) Cahyo Pramono, kepada MedanBisnis, Selasa (9/6).

Dikatakannya, peningkatan permintaan perlengkapan sekolah sudah menjadi siklus yang berulang setiap tahun. Artinya, setiap liburan dan menjelang masuk sekolah merupakan waktu yang tepat bagi pelaku UKM konveksi untuk meningkatkan produksi. Kondisi serupa juga akan terjadi pada perlengkapan sekolah lainnya, seperti tas, sepatu, dan perlengkapan pendukung lainnya.

Namun demikian, lanjutnya, persaingan pasar yang terjadi tidak hanya di pasar, mengingat ada sekolah yang sudah bekerja sama dengan pelaku usaha konveksi. Dengan kata lain, diantara pelaku UKM sudah ada yang memiliki pasar sendiri, tentunya dengan harga yang sudah disepakati sebelumnya.

“Biasanya yang menguasai pasar adalah pemain lama. Bahkan, para traders (pedagang perantara, red) juga ikut mengambil kesempatan ini. Pada prakteknya, mereka membeli kepada produsen dengan harga yang sudah ditetapkan,” lanjutnya.
Namun demikian, katanya, tidak jarang persaingan pasar yang semakin ketat justru menenggelamkan eksistensi pelaku UKM. Apalagi, tidak jarang dari mereka menerima orderan saja dahulu, baru bayar kemudian. Karenanya, perlu manajerial pemasaran yang baik.
“Bisa dengan cara menggunakan jasa marketing atau datang sendiri door to door ke sekolah-sekolah untuk melakukan kerjasama. Hal seperti inilah yang jarang dilakukan, Sehingga tidak sedikit diantara UKM konveksi yang kemudian tersisih,” tambahnya.
More aboutOrder Usaha Konveksi Bakal Meningkat

Sukses Usaha Clothing dengan Idealisme

Diposting oleh Samino

Geliat distribution store (Distro) atau clothing ternyata sudah lama dirintis oleh penggila under groud Malang. Gaungnya yang semakin menjadi trend fashion seperti sekarang malah dianggap sebagai sistem penjualan yang melenceng dari semangat awal kelahirannya.

Sekitar 15 tahun lalu, penggiat clothing di Malang mendirikan usaha konveksi sebagai bagian dari semangat DIY (Do It Your Self), mendanai pergerakan underground dan idealisme musik mereka tanpa terpengaruh pasar besar dengan sistem pemasaran yang dianggap mengeksploitasi pembeli dan hanya berorientasi pada keuntungan saja.

Clothing saat itu memiliki cita-sita untuk tetap eksis mendanai pergerakan mereka dan menyediakan baju dan berbagai aksesoris band dengan kualitas terbaik tanpa harga selangit. Seperti usaha konveksi clothing bermerek Torment di daerah Tanjung, Malang.

Berdirinya konveksi dengan merek Torment milik Indra Prastowo alias Mento melalui perjalanan yang cukup panjang. Sebelum usahanya berdiri, usaha konveksi dan clothing telah dirintis dan teman-teman under groundnya sekitar 15 tahun lalu. Saat itu, Mento yang hingga kini tetap aktif dalam dunia band bersama Keramat, mulai merintis bisnis clothing sebagai pelengkap kostum band dengan cara order dan penjualan ala distro dan by hand atau kirim langsung.

”Jadi saat itu semua baju dan aksesoris band kami jual kepada teman-teman di luar Malang melalui kontak person teman band kami. Sistem pembuatan konveksi juga masih tradisional, saya memesan baju dan sablonan di orang-orang yang berbeda, jadi saya hanya titip merek saja,” ujar Mento yang mengaku baru memiliki mesin konveksi sendiri sekitar tiga tahun yang lalu.

Dengan bermodal sekitar Rp 15 juta, Mento lantas membeli tiga buah mesin konveksi seperti mesin jahit, obras, dan satu mesin kelim bertenaga listrik. Sejak memiliki mesin sendiri, praktis seluruh pesanan dapat tergarap dengan maksimal dan selesai tepat waktu.

Mento mengaku, dalam satu bulan, produk clothingnya mencapai omzet hingga Rp 5 juta. Selain memproduksi mereknya sendiri, ia juga menerima pesanan clothing dari rekan-rekannya. Pesanan dari clothing yang lain ini mampu menambah omzetnya hingga Rp 6 juta per bulan.

Untuk menggaji tiga karyawannya, Mento menerapkan system bagi hasil, 60:40. ”Sistemnya kan per potong saja, jadi harga satu potong kami bagi 40 persen langsung untuk mereka,” lanjutnya.

Sistem bagi keuntungan ini ternyata cukup efektif untuk membuat karyawan bekerja lebih giat. Maklum saja, semakin banyak kaos yang mereka hasilkan, semakin besar juga pendapatan yang akan diperoleh.
Tiga tahun sejak memiliki mesin sendiri, Mento memutar seluruh keuntungan yang diperoleh untuk menambah investasi. Kini, Mento mempunyai tujuh mesin konveksi dari tiga mesin yang dimiliki di awal.

Ke depan Mento yang masih memilih sistem by hand dan penjualan dengan cara undergroud ini menginginkan untuk melebarkan produksi konveksi miliknya dengan jumlah yang lebih banyak, kualitas baik dan harga jauh lebih murah dibanding harga baju berkualitas sama yang dijual di mall.”Saya rasa kami masih butuh banyak modal untuk menambah mesin, memperbanyak jumlah produksi dan melebarkan pasar. Itu kan rencana masa depan, untuk pengumpulan modalnya kami belum terpikir untuk meminjam ke bank,” katanya.

Utamakan Pesanan, Nomor Duakan Torment
Setelah memiliki perusahaan konveksi sendiri tidak berarti Mento bebas mengembangkan Torment. Banyaknya order dari clothing lain seringkali membuat Mento menomor duakan jadwal produksi dari clothing miliknya. Meskipun begitu, Mento mengaku profit dan efeisiensi dalam berbagai hal lebih baik jika memiliki konveksi sendiri dibanding tergantung dengan pengusaha konveksi lainnya.

Dengan memiliki konveksi sendiri, Mento mengaku banyak perbaikan yang dirasakan. Sebelumnya Mento menghabiskan waktu untuk mencari konveksi yang mampu menyelesaikan pesanan miliknya sesuai deadline. Setelah itu ia masih harus mencari penyablon yang juga bisa segera menyelesaikan tepat waktu. ”Efisiensi dana bisa lebih terlihat. Banyak anggaran yang sebelumnya saya bagi dengan mereka serta tranportasi kini lebih tercurah untuk konveksi saya sendiri,” ujar gitaris Keramat ini.

Selain itu, dengan memiliki konveksi sendiri Mento jadi memiliki style design baju yang berbeda dari umumnya. Styale pembuatan baju diakuinya memang berbeda di setiap konveksi. Style baju dari konveksinya pun kini dikatakan menjadi salah satu yang dianggap terbaik dan berbeda. ”Style potongan baju saya dianggap berbeda, jadi banyak clothing yang pesan baju konveksi dari saya,” katanya bangga.

”Tapi kemudian, saya menyervis mereka dulu. Torment jadi sering telat jadwal produksinya, walaupun tidak terlalu parah juga,” tambahnya.

Lantas apa bedanya Torment dengan Clothing lain? Mento menjawab, perbedaan penting ada pada design print atau sablon yang mewarnai baju produksi Mento. Dalam hal design printing, Mento mengaku desain masing-masing clothing pasti berbeda tergantung pembuatnya. Untuk Torment, Mento mengaku ciri khas terletak pada warna dasar yang dominan hitam, printing berbau dunia kegelapan atau setelah mati, simbol-simbol religi, tengkorak ataupun motif tribalis yang lekat dengan simbol kematian. ”Torment kan memang semangatnya dunia kematian, gelap penuh dosa, sama dengan dunia yang menjejak tanah. Putih ada di langit, dan gelap, tanah, dosa tempatnya di dunia,” kata Mento mengenai filosofis dari Torment.

Konveksinya memang hanya akan memproduksi baju, jaket atau celana tanpa design printing. Sebab untuk printing, Mento mengaku dirinya belum memiliki teknologi printing yang bagus untuk kaos. ”Torment juga menyablon di tempat lain, karena kami belum memiliki alat printernya. Mungkin ke depan kami ingin menambah pengadaan mesin printer,” ujar Mento bercita-cita. (pit/han)

Konsisten Kualitas Bagus, Harga Murah

Bisnis clothing yang digeluti Mento memang mengalami sejumlah kendala untuk berkembang. Di antara desakan clothing dan konsep distro yang kini dinilai telah menyalahi semangat awal, Mento tetap berkeinginan untuk membesarkan konveksinya dengan cara yang tetap underground dan dengan semangat DIY. Walaupun ia juga tidak menampik jika ada niatan baik dari Pemkot untuk ikut membantu membesarkan pengusaha konveksi kecil seperti dirinya dan teman-teman lainnya.

Ia berharap ada ruang yang cukup untuk representatif untuk mendisplay produk mereka dengan ongkos yang juga bersahabat. Jika Pemkot memfasilitasi dengan menyediakan tempat khusus, menurutnya akan sangat membantu untuk pengembangan usaha clothing di Malang.

Sistem Distro yang lebih mengarah ke arah Fashion menyediakan barang dengan kwalitas baik namun dengan bandrol harga yang juga sama mahal dengan barang bagus lain yang ada di mal-mal. ” Itu karena sistem penjualan mereka tidak lagi memakai semangat DIY, banyak biaya yang harusnya tidak ada dapat di maksimalkan untuk biaya produksi dan menekan harga jual,” ujarnya.

Hasilnya baju yang dijual di Distro saat ini rata-rata dijual dengan harga tak kalah mahal dengan di Mall dengan embel-embel ekslusif dan dicetak dengan jumlah terbatas atau Limited Edition. Semangat yang sama yang juga dilakukan di produk baju milik Mento, dengan design yang limited dan kwalitas yang bagus, Mento yang menjual dengan sistem By Hand atau underground mematok harga yang masih lebih murah dibanding harga produk yang sama yang ada di Distro Malang.

Selain masalah harga, Mento juga melihat style fashion yang ada di Distro pun kini lebih kepada selera Fashion yang ada di masyarakat, bukan pada idealisme awal yaitu kebutuhan band dan aksesoris musik. Design baju yang diciptakan pun disesuaikan dengan pasar dan fashion yang ada, dengan tetap mengambil nama Distro sebagai model penjualan yang disebut secara Distribusi dan barang yang dicetak secara limited edition.

Meskipun begitu, Mento juga mengakui bahwa style miliknya pun berkiblat pada pasar tanpa menghilangkan idealisme awalnya. Selera urban atau budaya pendatang memang banyak mempengaruhi pola konsumsi warga Malang, jadi mau tidak mau Mento tetap mengambil referensi dari selera urban terutama dalam style kostum Street Wear tanpa mengurangi idealisme distronya.

”Menyediakan kostum dengan kualitas terbaik dengan desian dan kualitas oke yang bisa terjangkau semua kalangan, bukan baju mahal dan hanya dipakai mereka yang berduit. Sementara banyak warga lain yang hanya bisa ngiler terpinggirkan karena modernisasi dan konsumerisme yang dijadikan sumber uang bagi para pemodal,” tandasnya.
More aboutSukses Usaha Clothing dengan Idealisme

Usaha Konveksi Kebanjiran Pesanan Seragam

Diposting oleh Samino on Kamis, 09 Juli 2009

Dua pekan menjelang tahun ajaran baru, para pengusaha konveksi di Semarang, Jawa Tengah kebanjiran pesanan, terutama seragam sekolah. Meningkatnya permintaan pasar membuat para pengusaha mengeruk keuntungan cukup besar, lebih dari 75 persen dibanding hari biasa.

Salah satu yang kebanjiran order adalah Muhammad Dalail yang menjalankan usaha konveksinya di Jalan Purwoyoso, Ngalian, Semarang. Mesin-mesin jahit milik Amat--biasa dia dipanggil--seolah tak pernah berhenti bekerja. Amat dibantu 12 orang karyawannya bekerja hingga malam agar pesanan dapat diselesaikan tepat waktu.

Biasanya Amat hanya mengerjakan permintaan pasar tak lebih dari 10 lusin per hari. Namun, kini hingga 200 potong celana dan 175 baju seragam setiap hari. Dia mengaku sejauh ini tidak kesulitan mendapat bahan baku seragam sekolah karena pasokan bahan untuk konveksi dari pabrik tekstil setempat masih lancar.

Amat bersyukur dengan kondisi ini. Sebaliknya dia juga mengeluhkan minimnya tenaga penjahit yang terampil. Sebab setelah tahun ajaran baru ini lewat, akan menghadapi permintaan pada saat Lebaran. Demi mengejar target, sementara waktu konveksi Muhammad tidak menerima pesanan selain seragam sekolah.

Harga seragam buatan Amat bervariasi sesuai dengan tingkat sekolah siswa. Seragam sekolah dasar paling mahal Rp 29 ribu, sekolah menengah pertama Rp 35 ribu, dan sekolah menengah atas Rp 40 ribu. Selain dijual di tokonya, sebagian dikirim ke Rembang, Kudus, Pati, dan Purwokerto.
More aboutUsaha Konveksi Kebanjiran Pesanan Seragam

Usaha Konveksi di Pemalang

Diposting oleh Samino

Memasuki bulan Ramadan tahun ini sejumlah perajin konveksi di Pemalang, Jawa Tengah, sepi pesanan. Padahal biasanya, pesanan konveksi meningkat pesat sejak sebelum Ramadan hingga mendekati Idulfitri. Malah ada kecenderungan pesanan terus menurun.

Damir, perajin konveksi di Desa Ambo Wetan menuturkan pesanan sepi sejak dua bulan silam. Kini, setiap minggu Damir hanya menerima maksimal pesanan 50 lusin. Padahal, dalam kondisi normal pesanan bisa mencapai 100 lusin per minggu. Bahkan mendekati Lebaran biasanya meningkat pesat hingga 200 lusin.

Yang menyakitkan Damir, sepinya pesanan juga diikuti turunnya harga produk konveksi di pasaran. Padahal, harga bahan baku utama berupa kain dan benang justru naik. Para perajin konveksi menduga sepinya pesanan serta jatuhnya harga konveksi lokal disebabkan maraknya produk impor, seperti dari Cina
More aboutUsaha Konveksi di Pemalang

Perajin Konveksi di Tegal Makin Terpuruk

Diposting oleh Samino

Ratusan perajin konveksi di Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, saat ini terpuruk karena turunnya daya beli masyarakat yang mengakibatkan pasar sepi.

Salim, salah seorang perajin konveksi di Kabupaten Tegal, Kamis, mengatakan, saat ini penurunan daya beli pakaian dari masyarakat sangat drastis sementara produksi pakaian melimpah di pasaran karena tidak laku.

"Kami sadari dalam situasi ekonomi yang sulit, masyarakat cenderung akan lebih memenuhi kebutuhan pangan dari pada pakaian sehingga kondisi ini mengakibatkan perajin konveksi kolaps," katanya.

Menurut dia, perajin tidak mengalami masalah terhadap stok bahan baku dan biaya produksi tetapi yang menjadi hambatan mereka adalah penjualan hasil produksi yang sulit akibat situasi pasar lesu sedangkan dana usaha yang digunakan berasal dari pinjaman bank.

"Perajin konveksi rata-rata terjerat pinjaman bank yang memberikan bunga cukup tinggi sedangkan saat ini penjualan hasil produksi lesu," katanya.

Fauzi, perajin konveksi lainnya mengatakan, keterperukan pemilik konveksi di Kabupaten Tegal karena mereka tidak memiliki manajemen yang baik sehingga ketika situasi pasar lesu banyak perajin yang bangkrut.

"Keterpurukan usaha konveksi ini kami nilai akibat banyak perajin yang tidak menggunakan manajemen yang baik sehingga ketika dalam kondisi pasar yang tidak menentu mereka tidak siap," katanya.

Sekretaris Komisi B DPRD Kabupaten Tegal, Sorikhin, mengatakan, sebenarnya Pemkab Tegal sudah memberikan perhatian terhadap perajin konveksi di daerah itu tetapi mereka tidak mampu mengelola sejumlah bantuan yang telah dikucurkan.

"Kemungkinan mereka menganggap bantuan yang diberikan pemkab berupa hibah dan hal itu menjadikan kelemahan perajin konveksi untuk mempertahankan usahanya dalam kondisi ekonomi yang masih sulit," katanya.
More aboutPerajin Konveksi di Tegal Makin Terpuruk

Kisah Fauzi berbisnis konveksi

Diposting oleh Samino

Fauzi memulai bisnis konveksinya dari membikin kaus seragam untuk murid-murid sekolah. Sekarang, ia sudah punya 55 unit mesin jahit plus merangkul puluhan klien perusahaan besar.

Kendati tidak tampak luar biasa, jangan sepelekan bisnis kaus kelas. Kaus seragam ini, lazimnya, dipesan oleh murid-murid dalam satu kelas atau satu sekolah sekadar memperlihatkan kebersamaan mereka. Nah, tidak sedikit pengusaha yang mendulang sukses dari ikatan emosi anak sekolah ini. Salah satunya adalah Fauzi Ishak yang membangun usaha konveksinya dari membikin kaus kelas seperti ini.

Saat ini Fauzi memiliki usaha konveksi baju bernama BEKaos. Meski menyandang nama kaus, Fauzi justru lebih banyak menggarap seragam untuk perusahaan. “Sekitar 80% pekerjaan saya sekarang adalah menjahit uniform,” tutur bapak dari tiga anak ini. Misalnya, ia baru merampungkan pesanan dari Garuda Maintenance Facility senilai Rp 1,2 miliar. Selain itu, menurut Fauzi, ia juga menggarap seragam KPC, Freeport, Trakindo, serta Aerowisata Catering.

Untuk mengerjakan pesanan kaus, Fauzi memiliki 55 unit mesin jahit. Jika seluruh kapasitasnya dikerahkan, Fauzi mempekerjakan sekitar 70 orang karyawan. “Tapi, dalam kondisi sekarang, memang jarang penuh. Paling cuma 35 mesin saja yang jalan,” celetuknya.

Ia juga punya cara sendiri untuk meladeni pelanggan yang memesan ribuan baju dengan tenggat mepet. Kebetulan, keluarga besar Fauzi punya usaha konveksi serupa di Bandung. “Jadi, saya potong di sini, lalu saya bagikan ke Bandung,” jelas Fauzi yang pernah menggarap 50.000 potong kaus pesanan dari Aceh yang harus rampung dalam waktu dua minggu.

Jadi tawuran gara-gara kaus pesanan

Fauzi membangun bisnisnya ini dari sebuah gang kecil di Mampang pada pertengahan 1980-an. Berbekal pengalamannya membikin kaus kelas di Bandung, Fauzi pun nekat menyewa rumah kecil. Ia membuka usaha pembuatan kaus dengan modal Rp 2,8 juta. “Saya masih ingat, sewa rumahnya Rp 800.000 setahun,” tutur Fauzi.

Setelah itu, ia harus hidup berhemat dengan uang Rp 2 juta sisanya. Fauzi mengajak dua kawan untuk menjadi karyawan dan ikut mengerjakan seluruh proses pembuatan kaus, kecuali menjahit. “Saya beli mesin, saya potong sendiri, sablon sendiri, tapi saya enggak bisa menjahit,” katanya.

Bisnis pembuatan kaus ini ternyata cepat berkembang. Dalam seminggu, Fauzi bisa menggarap 100 potong kaus. “Dulu, saya cukup punya nama di antara anak-anak SMA itu,” kata Fauzi yang memilih sebutan Bandungprima untuk usaha pembuatan kausnya ini.

Menggarap kaus kelas pesanan anak SMA membawa pengalaman lucu bagi Fauzi. Sebut saja waktu ia menerima pesanan kaus dari STM Boedoet dan STM Penerbangan. Dua siswa sekolah itu tawuran lantaran bertemu muka ketika sama-sama mengambil kaus di rumah Fauzi. “Saya malah sampai dimintai keterangan oleh polisi segala,” ujar lelaki berusia 37 tahun ini sambil tertawa lebar.

Tapi, Fauzi tidak mau melulu bergulat dengan bisnis kaus kelas. Ia membuka pasar baru dengan mencari pelanggan perusahaan. Selama tiga tahun pertama, Fauzi rajin menawarkan sendiri kaus bikinannya ke banyak perusahaan. Pengalaman pahit menjadi bagian dari hidupnya. “Saya harus menunggu bagian purchasing selama berjam-jam. Terus kita dikasih waktu cuma lima menit. Itu pun mereka enggak jadi pesan,” kenang Fauzi. Alhasil, beberapa kali ia tertidur di atas sepeda motor di pelataran Monas. “Saya kecapekan, ya, tidur saja di situ,” katanya.

Aksi promosi door to door itu memang membuahkan hasil. PT Telkom menjadi klien pertama Fauzi. Kebetulan perusahaan ini dikejar waktu untuk membuat seragam Telkom Jakarta Selatan. Fauzi pun segera menyambarnya, kendati harus bekerja sama dengan koperasi karyawan di situ. “Nilainya Rp 50 juta. Waktu itu nilai segitu besar sekali,” ujarnya. Karena pesanan terus bertambah, Fauzi harus pindah ke Tebet untuk mendapatkan tempat yang lebih besar.

Nah, tahun 1993 Fauzi mengusung BEKaos pindah ke Condet. “Dulu, ini rumah orang Betawi asli yang kemudian bisa saya beli,” ujar Fauzi mengenai workshop-nya yang sekarang. Di sinilah, Fauzi menaruh puluhan mesin miliknya.

Emoh dianggap pengusaha plin-plan

Menurut Fauzi, berbisnis konveksi cukup unik. Pasalnya, si pengusaha harus tahu detail bahan baku dan produksinya. Fauzi merasa diuntungkan dengan bekal pengalaman selama di Bandung dan jaringan yang dimiliki di sana. “Saya jadi tahu, di mana bisa mencari bahan yang harganya miring, untuk disesuaikan dengan anggaran pemesan,” ujar Fauzi.

Sebagai pengusaha, Fauzi merasa dirinya enggak takut merugi. “Kalaupun rugi, saya harus belajar dari situ,” tegasnya. Fauzi mengakui beberapa kali dirinya pernah rugi besar. Kala menang tender, kerap kali hitungan bisnis sesungguhnya melesat jauh dari nilai tender. Pasalnya, harga bahan baku sering naik turun. Kalau harga bahannya kelewat tinggi, Fauzi berusaha menegosiasikan harga jual kepada pemberi order. Jika negosiasi gagal, ya sebisa mungkin ia tetap memenuhi kewajibannya. “Saya enggak mau kalau pelanggan bilang saya plin-plan,” cetusnya. Lebih lagi, dengan cara begini, kebanyakan pelanggan justru terkesan dan memesan lagi di lain waktu.

Pemain di bisnis konveksi baju jumlahnya ada ratusan ribu. Tapi, menurut Fauzi, ia tetap optimistis dengan kesempatannya meraih laba. Tiga bulan lalu, ia membuka bisnis konveksi di Batam. “Cukup lumayan kok responnya,” ujarnya. Menurut dia, masih banyak daerah yang menyimpan potensi pasar. “Prinsip saya, jangan takut memulai,” tandas Fauzi.

Fauzi justru khawatir dengan serangan konveksi dari China. Beberapa kali ia merasakan pahitnya serangan ini. Misalnya, niatnya memasok seragam ke Malaysia gagal karena kalah dengan produk China. “Saya ngeri sekali dengan produk mereka. Karena, harganya bisa jauh lebih murah,” ucap Fauzi. Padahal, sebelum tahun 2003, Fauzi banyak mengirimkan seragam dan pakaian jadi ke Malaysia dan Brunei.

Fauzi tidak mau sekadar berkutat di bisnis konveksi saja. Ia baru membuat OrbitCom yang bisnisnya periklanan dan event organizer. Ia juga berbisnis separator jalan, bekerja sama dengan kantor polisi di Jakarta. Untuk itulah, ia membikin tim pemasaran sendiri. “Tim pemasaran ini fleksibel, bisa ke BEKaos, bisa ke Orbit juga,” ujar Fauzi yang sekarang tidak perlu melepas lelah di pelataran Monas lagi.

+++++

Bisnis Keluarga

Konveksi memang tidak asing bagi Fauzi Ishak. Maklum, banyak anggota keluarganya di Bandung berbisnis kaus. Ia merintis bisnis kaus semasa SMA. “Eh, lama-lama keenakan, karena SMA sudah pegang duit sendiri,” kenang anak keenam dari tujuh bersaudara ini. Maka, Fauzi pun ogah tertahan di bangku kuliah Universitas Pasundan. “Saya lebih memilih untuk wiraswasta,” ucap lelaki Riau kelahiran Bandung ini. Tiga saudara laki-lakinya, semua mempunyai bisnis konveksi.

Meski ayahnya adalah juga seorang pengusaha, Fauzi mengaku mendapat gemblengan keras dari kakaknya. Sang kakak, menurut Fauzi, selalu melarangnya melakukan banyak hal. “Dia bilang, jangan belagu. Kalau sudah bisa mencari duit seribu perak, bolehlah kamu bertingkah,” kenang Fauzi. Ucapan itu melecut Fauzi untuk mulai membikin kaus kelas semasa SMA. “Saya koordinir teman-teman saya untuk membuat kaus ini,” ujar Fauzi yang hobi badminton, tenis meja, dan joging.

More aboutKisah Fauzi berbisnis konveksi